TELUSUR SEJARAH MOTIF BATIK PADA LOMAR BADUY

Main Article Content

Tety Suparti

Abstract

This research aims to investigate the history of batik motifs applied to the head band, or "lomar,"
of the Baduy community and the batik tradition among the Sundanese people, particularly in the
Banten region. A descriptive-qualitative method was used, with data collection through literature
reviews, documentation, and interviews. The research findings indicate that the Sundanese people
have a tradition of batik making, as documented in ancient Sundanese manuscripts. The study also
found that batik has been circulating in Baduy since the 1960s, although customary rules prohibit
products from outside their ancestral land. One of the pioneers in selling batik in Baduy, Ayah
Nasirah, initiated the production by ordering batik from batik craftsmen in Karet, Jakarta. Due to
business competition, a Baduy resident brought it to a Chinese businessman in Rangkasbitung and
later mass-produced it in Pekalongan. Based on documentary studies, in the 1950s and 1960s, the
motif of hariang or tapak kebo began to be applied to head bands worn by several Baduy
individuals, although it was not as uniform as it is today. Until now, it is still unknown who initiated
the production and the intellectual property rights to the motifs on the Baduy head bands, or lomar.
In conclusion, the indigenous Baduy community does not produce batik. The batiks circulating and
being applied to lomar head bands and cloth "lunas" are commissioned from batik producers in
Pekalongan. In other words, Baduy is both the "brand name" and the "market" for batik products
that are not produced in their customary territory. Nevertheless, the hariang and tapak kebo motifs,
as well as other batik motifs that continue to emerge to this day, acknowledged or not, have become
the identity of the Baduy indigenous community.


Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki sejarah motif batik yang diaplikasikan pada ikat
kepala atau "lomar" Baduy dan terkait tradisi membatik di kalangan masyarakat Sunda, khususnya
di wilayah Banten. Metode kualitatif deskriptif digunakan dengan pengumpulan data menggunakan literatur, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Sunda
memiliki tradisi membatik, seperti yang terdapat dalam naskah Sunda kuno, Saṅ Hyaṅ Siksa
Kandaṅ Karəsian. Penelitian juga menemukan bahwa batik telah beredar di Baduy sejak tahun
1960-an, meskipun aturan adat melarang produk-produk yang berasal dari luar tanah ulayat.
Berdasarkan studi dokumentasi pada tahun 1950—1960-an, motif hariang atau tapak kebo mulai
terlihat diaplikasikan pada ikat kepala yang dipakai oleh beberapa orang Baduy, meskipun belum
seragam seperti saat ini. Dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa masyarakat
adat Baduy tidak membuat batik. Batik yang beredar dan diaplikasikan baik pada ikat kepala
(lomar) maupun kain lunas, merupakan hasil pesanan dari produsen batik di Pekalongan. Dengan
kata lain, Baduy merupakan jenama sekaligus ‘pasar’ dari produk batik yang tidak diproduksi di
wilayah adat mereka. Meskipun demikian, motif hariang dan tapak kebo serta motif batik lainnya
yang terus bermunculan hingga saat ini, diakui atau tidak, telah menjadi identitas masyarakat adat
Baduy.

Article Details

How to Cite
Suparti, T. (2024). TELUSUR SEJARAH MOTIF BATIK PADA LOMAR BADUY. Jurnal Pendidikan Seni Dan Industri Kreatif (Sendikraf), 4(2), 1–13. Retrieved from http://p4tksb.com/index.php/sendikraf/article/view/69
Section
Articles

References

Djoewisno. (1987). Potret Kehidupan

Masyarakat Baduy: Orang-orang

Baduy Bukan Suku Terasing Mereka

Yang Mengasingkan Diri. Banten:

Cipta Pratama ADV.

Kurnia, A., & Sihabudin, A. (2010). Saatnya

Baduy Bicara (Edisi Pertama). Jakarta:

Bumi Aksara.

Susanto, S. (2018). Seni Batik Indonesia.

Yogyakarta: Andi Offset.

Tricht, B. Van. (1920). Levende Antiquiteiten in

West-Java. Batavia: G. Kolff & Co.

Geise, N.J.C. (2022). Badujs en Moslims: Kajian

Etnografis Masyarakat Adat di Lebak

Parahiang, Banten Selatan. Jakarta:

Penerbit Buku Kompas.

Nurwansah, I. (2020). Siksa Kandang Karesian:

Teks dan Terjemahan. Jakarta:

Perpustakaan Nasional Republik

Indonesia.

Jurnal

Apriyani, K., Kurnia, T., Trijaya. (2021). Motif

Batik Sebagai Ikon dan Mitos Baru

Identitas Kabupaten Lebak. Jurnal

Budaya Etnika, ISBI, 5(1). DOI:

http://dx.doi.org/10.26742/be.v5i1.159

Misno, Kurnia, A., & Rochman, L.K. (2021).

Dilema Suku Baduy: Antara Kewajiban

Ngahuma dan Keterbatasan Lahan

Huma. Vol. 8, No. 2 (Juli-Desember).

DOI:

https://doi.org/10.32678/kawalu.v8i2.2

Skripsi

Pratiwi, I.A. (2017). Kajian Motif Hias dan

Makna Simbolik Batik Suku Baduy

Banten. Skripsi S1. Universitas

Pendidikan Indonesia. Diakses dari

[http://repository.upi.edu/28262/] pada

Desember 2022.

Jurnal Sendikraf, Volume 4 No 2 November 2023 | 13

Website

Isnaeni, H.F. (2021). Sukarno dan Baduy.

Diakses di Historia.id melalui link

[https://historia.id/kultur/articles/sukar

no-dan-baduy-vg8q9] pada 22

Desember 2022.

Prosiding

Gunawan, A. (2017). Wastra dalam Sastra Sunda

Kuna. [Paper Presentasi]. Seminar

Internasional Pernaskahan Nusantara

(SEMIPERNAS), Universitas Sebelas

Maret, Surakarta.

Dokumen

Saputra, S. (1950). Baduy. Naskah 3 Pertemuan

Pertama. Bandung: (Naskah diperoleh

dari Enoch Atmadibrata, disalin dan

didokumentasikan oleh Perpustakaan

Unpad 1995).

Dokumentasi

Arsip Nasional Indonesia. (1950). Dokumentasi

Kempen Jawa Barat 1950. Diakses

melalui Museum Multatuli Lebak

(2021) Pameran Sukarno Nyaba

Banten. Rangkasbitung.

Leiden University Library. (2007). Southeast

Asian & Caribbean Images (KITLV).

Diakses dari

[http://hdl.handle.net/1887.1/item:804

pada 22 Desember 2022.

Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed,

Ministerie van Onderwijs, Cultuur en

Wetenschap Diakses melalui link:

[https://www.collectienederland.nl/]

pada 10 Mei 2023.

Museum Foto Netherland diakses melalui link

[https://collectie.nederlandsfotomuseu

m.nl] pada 10 Mei 2023.

Wawancara

Wawancara dengan Jamal (39 tahun), warga

Baduy asal Kampung Kadu Ketug III dilakukan

pada 23 Desember 2022.

Wawancara dengan Arsid (40 tahun), warga

Baduy adal Kampung Gajeboh dilakukan pada 23

Desember 2022.